baruna jaya

Kepulauan Indonesia dicirikan sebagai wilayah yang memiliki suhu permukaan laut (Sea Surface Temperature (SST)) paling hangat di dunia dan merupakan wilayah utama sistem perubahan iklim.  Studi sebelumnya menunjukkan bahwa pola SST di Laut Indonesia sangat dipengaruhi oleh pencampuran vertikal yang diinduksi pasang-surut (selanjutnya disebut "Tidal Mixing"). Peran lain dari pencampuran pasang surut adalah mengubah karakter Indonesian Throughflow (ITF). Pencampuran pasang surut di Laut Indonesia sangat penting untuk prediksi sirkulasi lautan skala besar serta sirkulasi atmosfer global. Di Laut Indonesia, pengukuran mikrostruktur hampir tidak dilakukan sehingga distribusi dan besarnya pencampuran pasang surut menjadi tidak pasti.

Dalam survei ini, untuk memperjelas distribusi dan besarnya pencampuran pasang surut di perairan Indonesia, akan dilakukan pengukuran mikrostruktur menggunakan wahana survei K.R. Baruna Jaya IV langsung di perairan Indonesia terutama di hotspot pencampuran yang diperoleh dari hasi simulasi numerik tiga dimensi. Untuk mengidentifikasi wilayah hotspot untuk transformasi massa air, juga akan dilakukan pengukuran XCTD / CTD / LADCP untuk mengklarifikasi proses fisik untuk transformasi air ITF.

Maksud dan Tujuan

Maksud dari kegiatan ini adalah untuk mengetahui distribusi dan besarnya pencampuran pasang surut di perairan Indonesia. Adapun tujuan dari kegiatan ini adalah pengukuran mikrostruktur menggunakan wahana survei K.R. Baruna Jaya IV langsung di perairan Laut Sulawesi dan Selat Makassar.

Waktu dan Tempat Pelaksanaan

Kegiatan operasi ini dilaksanakan mulai tanggal 6 – 17 Agustus 2019 yang dimulai dari Pelabuhan Bitung (Sulawesi Utara) menuju area survei di Laut Selawesi dan Selat Makasar serta berakhir di Pelabuhan Makasar (Sulawesi Selatan)

Lokasi Survei Jalur Pelayaran Pelabuhan Bitung (Sulawesi Utara) menuju area survei di Laut Selawesi dan Selat Makassar dan berakhir di Pelabuhan Makasar (Sulawesi Selatan)

Wahana dan Peralatan Survei

Wahana yang digunakan dalam kegiatan ini adalah KR. Baruna Jaya IV dengan peralatan yang digunakan dalam survei ini, dapat dilihat pada tabel berikut :

Tipe dan Spesifikasi Peralatan Survei

No Peralatan Jumlah
1 DGPS Cnav 2050 1 set
2 CTD SBE 911 1 set
3 CTD SBE 19Plus V2 1 set
4 CTD Rinko ASTD102 1 set
5 Dongle hypack 6.2a 1 set
6 SBP Oretech 3010S 1 set
7 Vertical Microstructure Profiler eXpendable (VMP-X) 1 set
8 Vertical Microstructure Profiler 5500 (VMP- 5500) (Rockland Scientific International Inc.) 1 set
9 LADCP (lowered acoustic Doppler current profiler) (Teledyne RDI) 1 set
10 eXpendable Conductivity, Temperature, and Depth (XCTD) system (Tsurumi Seiki Co., Ltd.) 1 set

 

Personil yang terlibat dalam survei ini  meliputi 17 orang perekayasa, 6 orang teknisi, 5 orang peneliti, 1 orang paramedis, 1 orang security officer, 3 orang dari Tokyo University dan 22 orang kru kapal Baruna Jaya IV. Ketua Tim survei ini yaitu Handoko Manoto dan Anwar Latif, A.Md sebagai nakhoda.

Oleh

Dimas Rizqi Dwaiji1, Danar Guruh Pratomo2, Khomsin3, dan Dwi Haryanto4.

1,2,3 Teknik Geomatika - Fakultas Teknik Sipil, Lingkungan dan Kebumian -ITS

4 Balai Teknologi Survei Kelautan - BPPT

 

Abstrak

Potensi perikanan di Indonesia terdiri dari beberapa jenis, umumnya berupa ikan karang, pelagis besar dan kecil, lobster, udang, dan demersal. Salah satu cara mengoptimalisasi potensi jenis-jenis potensi perikanan tersebut adalah dengan mencari habitat ikan. Habitat ikan ini selanjutnya dapat digunakan sebagai daerah penangkapan ikan. Pada penelitian kali ini, habitat ikan demersal dicari berdasarkan preferensi ikan demersal. Adapaun jenis-jenis ikan demersal yang dicari habitatnya adalah ikan Petek, Beloso, Peperek, Kakap Merah, Kurisi, Kakap Putih, Lencam, dan Kuwe. Berdasarkan preferensi ikan demersal yang hidup di dasar laut dengan jenis sedimen tertentu, pendekatan secara akustik digunakan untuk menentukan kedalaman dan jenis sedimen yang menjadi  preferensi  beberapa  jenis  ikan  demersal.  Instrumen akustik yang digunakan pada penelitian kali ini adalah instrument Multibeam Echosounder (MBES). Data yang digunakan dari MBES adalah data batimetri dan hambur balik (backscatter strength). Data batimetri digunakan untuk mendapat nilai kedalaman dari lokasi penelitian, sedangkan data hambur balik diolah sehingga menghasilkan mosaik hambur balik dan angular response curve.

 

Angular response curve selanjutnya digunakan untuk klasifikasi jenis sedimen pada mosaik hambur balik, sehingga didapat jenis sedimen di area penelitian berupa lanau, lanau berpasir, pasir berlanau, dan pasir. Dilakukan pengirisan (intersection) dari data kedalaman dan persebaran sedimen berdasarkan preferensi kedalaman dan jenis sedimen ikan-ikan demersal. Area hasil irisan menunjukkan bahwa ikan Lutjanus campechanus (Kakap merah) memiliki habitat paling luas, yaitu 905.221,356 m2, sedangkan Lates calcarifer (Kakap putih) sebaliknya, yaitu 105.317,213 m2.

 

Kata kunci : Habitat, ikan demersal, hambur balik, batimetri

 

Setelah penandatanganan kontrak kerjasama pada 18 Maret 2019 lalu, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) melalui unit kerja Balai Teknologi Survei Kelautan melakukan upacara pelepasan KR Baruna Jaya I untuk memulai survei Landas Kontinen Ekstensi Indonesia yang bekerja sama dengan Badan Informasi Geospasial (BIG) di utara Papua.

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi melalui unit kerja Balai Teknologi Survei Kelautan bekerjasama dengan Badan Informasi Geospasial Republik Indonesia melaksanakan kegiatan survei pemetaan landasan kontinen atau Landas Kontinen Ekstensi (LKE) di Wilayah Utara Papua.

Dalam rangka pelaksanaan program pemasangan kabel optik dari PT Legenda Emas Cipta Engineering (PT. LECE ) di NTT, perusahaan tersebut bekerjasama dengan Balai Teknologi Survei Kelautan BPPT untuk membuat perencanaan jalur kabel bawah laut. Untuk maksud tersebut diperlukan kegiatan

Rabu, 31 Oktober 2018 sekitar pukul 10.20 WIB, tim SAR Gabungan yang berada di Kapal Riset Baruna Jaya I BPPT yang terdiri atas Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), Badan SAR Nasional (Basarnas), dan tim survei BPPT menemukan objek penting di area yang diperkirakan tempat jatuhnya pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan JT-610.

 

Pesawat Lion Air JT610 rute Jakarta – Tanjung Pinang hilang kontak pada tanggal 29 Oktober 2018. Badan SAR Nasional ( Basarnas) telah mengkonfirmasi bahwa pesawat tersebut jatuh di perairan utara Karawang, Jawa Barat.

Gempa dan Tsunami yang terjadi pada hari Jumat, 28 September 2018 di Donggala dan Palu-Sulawesi Tengah dengan kekuatan 7,4 Skala Richter (SR) menyebabkan banyak korban.

Balai Teknologi Survei Kelautan (Balai Teksurla) – Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) melakukan uji coba pelayaran (sea trial) Kapal Riset Baruna Jaya II pada  Senin, 3 September 2018.

Selasa, 26 Juni 2018 Tim BPPT dari unit Balai Teknologi Survei Kelautan (BTEKSURLA) , Balai Besar Teknologi Kekuatan Struktur (B2TKS) dan PT.PADI berangkat ke Danau Toba untuk membantu pencarian korban tenggelamnya kapal KM. Sinar Bangun.

Halaman 1 dari 7

Kami Menanti Anda

Sebuah kehormatan bagi kami apabila dapat menjalin kerjasama dengan berbagai kalangan untuk memperluas jaringan kerja dalam rangka meningkatkan pengkajian dan penerapan teknologi survei kelautan serta layanan jasa yang kami tawarkan.

hubungi kami