Written by  2021-07-22

Eksplorasi Mineral Laut Dalam di Indonesia : Potensi, Kebijakan, Tantangan dan Teknologi

(0 votes)

Balai Teknologi Survei Kelautan-BPPT memprakarsai diskusi webinar bertajuk “EKSPLORASI MINERAL LAUT DALAM DI INDONESIA: POTENSI, KEBIJAKAN, TANTANGAN DAN TEKNOLOGI” pada tanggal 22 Juli 2021. Acara ini merupakan rangkaian acara menuju Ulang Tahun BPPT ke-43 yang jatuh pada tanggal 21 Agustus 2021.

BPPT sebagai lembaga Pemerintah yang memiliki peranan penting dalam ekosistem teknologi menyakini bahwa hanya dengan bantuan Teknologi yang tepat guna, sehingga akan dapat mendorong temuan-temuan baru Potensi Mineral Laut Dalam di Indonesia. Suatu langkah nyata selaras paradigma mendukung transisi ekonomi hijau yang berkelanjutan.

 

Latar belakang

Berbagai mineral yang ditemukan di dasar laut dalam merupakan suatu kekayaan yang sangat bernilai bagi umat manusia, khususnya mendukung sasaran masa depan menuju transisi ke ekonomi hijau. Secara kolektif, kandungan metal yang sangat berharga diantaranya tembaga, mangan, seng, kobalt dan khususnya elemen bumi langka (Rare Earth Elements /REE) yang memainkan peran penting dalam teknologi mutakhir.

Dinamika permintaan metal dan mineral kedepan diprediksi akan mengalami lonjakan yang luar biasa, sehingga mineral laut dalam dapat berperan sebagai alternatif menopang sumber dari darat. Permasalahan lingkungan dan regulasi yang terjadi pada area pertambangan mineral di darat, dimana pada umumnya cadangan serta kadar mineral yang sudah mengalami penurunan, sehingga sebagai pengendali alternatif menuju eksplorasi Mineral Laut Dalam baik di dalam yurisdiksi nasional (ZEE) maupun di luar pada “Area” di bawah Otoritas Dasar Laut Internasional (International Seabed Authority (ISA)-UNCLOS). Tiga tipe endapan Mineral Laut Dalam yaitu Polymetallic Nodules yang berada pada dataran abysal, Sea Floor Masive Sulphide (SMS) dan Hydrothermal Vein yang dapat dijumpai pada pematang tengah samudera (MOR) maupun di busur belakang (back arc), cobalt crust yang dapat dijumpai pada gunung laut (seamount),  ketiganya telah menjadi target eksplorasi untuk ditingkatkan menuju tahapan eksploitasi.Namun demikian tahapan eksploitasi mineral laut dalam juga tidak terlepas dari studi lingkungan terhadap  dampak yang dapat ditimbulkan dari kegiatan ekstraksi baik di lokasi dan sekitarnya.

Walaupun Indonesia merupakan suatu negara kepulauan dengan dua pertiga (~77%) wilayahnya merupakan laut, namun ternyata masih kurang/terbatas dalam mengkaji potensi dari Mineral Laut Dalam. Dengan tatanan geologi yang relatif komplek dan wilayah laut dalam yang luas, sampai saat ini kegiatan-kegiatan utamanya masih terkait Penelitian ilmiah sedangkan pada ekplorasi dianggap masih sangat kurang memadai. Sehingga potensi sumber daya Mineral Laut Dalam yang merupakan kawasan frontier, masih menjadi misteri. Sebagai perbandingan, negara tetangga kita Singapura dengan mitra Industri telah mempunyai satu kontrak di Area Clarion Cliperton Zone, Samudra Pasifik untuk endapan nodul mangan pada kedalaman 4000-5000m, dimana saat ini dalam tahap eksplorasi untuk menuju Eksploitasi (menunggu tuntasnya Mining Code). Setidaknya Indonesia pernah melakukan survei ilmiah potensi Mineral Laut Dalam dari beberapa expedisi kelautan terdahulu, diantaranya Expedisi Snellius I dan Expedisi Snellius II, Survei BANDAMIN dan Survei Teluk Bone dengan menggunakan KR Baruna Jaya III dengan hasil indikasi nodul mangan di Laut Banda dan potensi mineral emas di Teluk Bone. Demikian juga beberapa penelitian laut dalam lainnya, antara lain INDEX SATAL 2010 menggunakan KR Baruna Jaya IV telah menemukan situs Hydrothermal Vent, merupakan bukti bahwa potensi Mineral Laut Dalam terdapat di wilayah Indonesia. Dengan tersedianya data dan informasi potensi mineral laut dalam dengan ditopang oleh ilmu kelautan yang memadai, sehingga ke depannya akan bermanfaat sebagai suatu pertimbangan dalam proses kebijakan serta perencanaan pembangunan terkait ekonomi, industri maupun pelestarian lingkungan.

 

Tujuan

  1. Untuk mendiskusikan perkembangan status saat ini eksplorasi Mineral Laut Dalam di Indonesia.
  2. Memahami  kebijakan yang khususnya dapat memayungi eksplorasi Mineral Laut Dalam di Indonesia serta permasalahan yang dihadapi.
  3. Memproyeksikan teknologi yang dibutuhkan dalam melaksanakan studi dan pemetaan potensi mineral laut dalam di Indonesia baik di dalam yuridiksi maupun yang diperluas (opsi landas kontinen yang diperluas).
  4. Mempertemukan para pakar di bidang Mineral Laut Dalam dan disiplin terkait lainya dimana  diharapkan dapat  berkolaborasi ke dalam suatu Grup kerja atau Working Group (WG), untuk lebih memfokuskan kepada  kontribusi meningkatkan keberhasilan pendayagunaan Mineral Laut Dalam di Indonesia, sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan
  5. Menggali potensi kerjasama dan pelatihan dengan negara pihak pelaku aktif eksplorasi  di “Area” di bawah International Seabed Authority (ISA) dimana Indonesia menjadi salah satu dari 168 negara Anggota,  sebagai proses “lessons learned” dalam pengetahuan untuk alternatif eksplorasi Mineral Laut Dalam di Indonesia. Disamping itu juga pada negara yang telah mempunyai pengalaman dalam eksplorasi dan mendekati eksploitasi laut dalam di dalam wilayah  yurisdiksi nasional (Non ISA), antara lain Papua New Guinea (Solwara-1) dan Jepang, dimana sudah sampai uji coba wahana robot untuk mengambil mineral laut dalam, sampai sistem penanganan tailing yang menjadi isu kritis.

 

Pengisi Acara

Keynote Speakers

Dr. Ir. Hammam Riza, M.Sc., IPU.  (Kepala BPPT)

Dr. Ir. Ridwan Djamaluddin, M.Sc. (Dirjen Minerba-ESDM)

 

Narasumber

  1. Prof.Ph.D. Hardi Prasetyo APU

(Ahli Geologi Laut Dalam, mantan SAM KESDM & Ketua FMKI)

  1. Prof. Dr. Ir. Hananto Kurnio, M.Sc.

(Professor Riset Geologi Kelautan P3GL-ESDM)

  1. Rainer Arief Troa, ST, M.Si.

(Peneliti Pusriskel-KKP)

  1. Sora Lokita, SH, MIL

(Asisten Deputi I, Kemenko Marvest)

  1. Yudo Haryadi, ST, MT

(Perekayasa BPPT)

 

Penanggap

  1. Ir. Arifin Rudiyanto, M.Sc., Ph.D (Deputi Kemaritiman dan SDA - BAPPENAS)
  2. Dr. Ir. Haryadi Permana  (Peneliti Pusat PenelitianGeoteknologi - LIPI)
  3. Dr. Rudi Nugroho  (Direktur PTPSM - BPPT)
  4. Dr. Ir. M. Burhannudinnur, M.Sc. (Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia)
  5. Andree Brierly Maramis, S.H., LL.M (Diplomat Ahli Muda, Kemenlu)

         

Moderator

Taufan Wiguna, ST (Perekayasa BPPT)

 

Perumus

Djoko Nugroho, ST, MT, IPU  (Ka. Balai TEKSURLA-BPPT)

 

Closing Speech

Ir. Yudi Anantasena, M.Sc., IPU  (Deputi TPSA-BPPT)

 

Hasil

  • POTENSI

1.     Wilayah laut Indonesia yang lebih luas ⅔ dari daratan atau setara total luasan 6,29 juta KM2. Dalam perkembangannya, riset potensi mineral laut dalam masih banyak berfokus pada kawasan Timur Indonesia seperti pada wilayah Abang Komba-Flores NTT, dan Kawio Barat-Sulawesi Utara. Potensi di Laut Banda dan Maluku yang masih belum tereksplore karena termasuk wilayah konservasi. 

2.     Penemuan jenis-jenis endapan mineral laut dalam pada ekspedisi yang telah dilakukan di Indonesia, seperti:

3.     Seafloor Massive Sulfides pada pusat pemekaran samudera dan busur belakang

4.     Nodul dan kerak mangan di pedataran bawah laut / abyssal plain

5.     Kobalt dalam bentuk ion logam di kolom air dan menempel pada molekul oksida besi dan vernadite

6.     Adanya indikasi – indikasi dari mineralisasi hidrotermal seperti pull apart structure dan intersection fault, proses alterasi seperti kloritisasi, silisifikasi, karbonisasi, dan argilisas serta identifikasi zona alterasi argilic dan prophylitic

7.     Potensi Rare Earth Element  di Indonesia besar namun belum dioptimalkan dengan keterbatasan anggaran.

8.     Potensi untuk meningkatkan kemampuan Sumber Daya Manusia melalui program capacity building yang diselenggarakan oleh International Seabed Authority

  • KEBIJAKAN

1.     Peraturan Presiden RI No. 16 tahun 2017

Peraturan ini menjadi dasar hukum pengembangan sumber daya kelautan non-hayati sebagai bagian dari kebijakan kelautan Indonesia

2.     Anggota Lembaga Internasional: International Seabed Authority (ISA)

Indonesia telah menjadi salah satu negara peserta UNCLOS 1982, juga termasuk anggota dari International Seabed Authority (ISA). ISA memberi kewenangan bagi para anggotanya untuk mengelola SDA Kelautan baik di wilayah ZEE, landas kontinen dan juga “The Area” sebagai warisan bersama umat manusia yang bisa dimaksimalkan bersama, merata dan berkeadilan untuk seluruh umat manusia

3.     Konsorsium Riset Samudera 2020 – 2045

Adanya agenda konsorsium riset samudera yang diinisiasi oleh 15 Kementerian/Lembaga dan Universitas mengagendakan penelitian laut. Dikoordinir oleh Kemenkomarves dalam mensinergikan teknologi, data dan nota kesepahaman dalam mewujudkan Konsorsium Riset Samudera.

4.     Masih adanya tugas bersama bagi kita semua untuk menuntaskan perumusan kebijakan pengelolaan Sumber Daya Alam dan kebijakan KDLI (Kawasan Dasar Laut Internasional).

  • TANTANGAN

1.     Riset multidisiplin dan pelayaran ilmiah kelautan kolaboratif.

2.      Peningkatan SDM dan teknologi sarana prasarana dalam riset eksplorasi dan eksploitasi sumber daya mineral laut dalam

3.      Dampak lingkungan dari kegiatan eksploitasi sumber daya mineral laut dalam .

4.     Pengawasan pemanfaatan sumber daya laut.

5.      Perencanaan ruang laut integratif

6.     Ketersediaan data dan informasi untuk melakukan eksplorasi mineral laut dalam 

7.     International Deep Sea Mining Code yang akan segera selesai, menjadi tanda dimulainya perlombaan dunia internasional untuk melakukan eksplorasi kelautan

 

 

  • TEKNOLOGI

1.     Teknologi tinggi yang dapat digunakan untuk mengeksplorasi mineral laut dalam yaitu dengan pemetaan dasar laut menggunakan Multibeam Echosounder System (MBES) laut dalam yang diperjelas dengan kamera Remotely Operated Vehicle (ROV), Autonomous Underwater Vehicle (AUV) dan Side scan sonar.

2.     Pengambilan sampel sedimen dasar laut dengan Gravity Corer, sediment dredger, Box Corer yang kemudian dilakukan petrografi pada sampel.

3.     Kesiapan beberapa kapar riset seperti KR Baruna Jaya I-IV (BPPT), KR Barunajaya 7-8 (LIPI), KRI 933 Rigel dan KRI 934 SPICA (Pushidros-AL), KR Madidihang 2 & 3 (KKP) dan Geomarine 3 (P3GL-KESDM)

4.     Aplikasi Teknologi Controlled-Source Electromagnetic CSEM pengukuran pada sea mount yang saat ini belum tersedia di Indonesia

 

Read 153 times Last modified on Rabu, 04 Agustus 2021 14:02

socialshare

share on facebook share on linkedin share on pinterest share on youtube share on twitter share on tumblr share on soceity6
Login to post comments

Kami Menanti Anda

Sebuah kehormatan bagi kami apabila dapat menjalin kerjasama dengan berbagai kalangan untuk memperluas jaringan kerja dalam rangka meningkatkan pengkajian dan penerapan teknologi survei kelautan serta layanan jasa yang kami tawarkan.

hubungi kami