admin.satu

Setelah penandatanganan kontrak kerjasama pada 18 Maret 2019 lalu, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) melalui unit kerja Balai Teknologi Survei Kelautan melakukan upacara pelepasan KR Baruna Jaya I untuk memulai survei Landas Kontinen Ekstensi Indonesia yang bekerja sama dengan Badan Informasi Geospasial (BIG) di utara Papua. Tak hanya itu, secara bersamaan BPPT yang berkolaborasi dengan BMKG juga memberangkatkan KR Baruna Jaya IV dalam rangka pemasangan buoy tsunami Merah Putih di Selat Sunda. Acara pelepasan ini dilakukan pada tanggal 10 April 2019 pagi di Dermaga 006 Tanjung Priok, Jakarta Utara.

                Upacara Pelepasan tersebut dihadiri oleh banyak tokoh penting, yaitu Seketaris Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Staf Ahli Bidang Infrastruktur Kementrian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Kepala BPPT, Kepala Badan Informasi Geospasial (BIG), Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana , Kepala BIG serta jajaran eselon I dan II di lingkungan BPPT.

                Masing-masing Kapal Riset Baruna Jaya yang dilepaskan membawa misi utama. Kapal Riset Baruna Jaya I yang menjunjung misi BPPT dan BIG merupakan sarana Pemerintah Indonesia yang berupaya untuk mengajukan perluasan wilayah Indonesia ke Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) dibeberapa titik laut di Indonesia, salah satunya di utara Papua. Menurut Staf Ahli Bidang Infrastruktur Kementrian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Hary Purwanto, luas laut yang berada di utara Papua dan belum di klaim oleh Indonesia bahkan lebih besar dari Pulai Sulawesi. Maka dari itu, misi yang diusung oleh KR Baruna Jaya I merupakan misi nasional yang akan menentukan nasib Indonesia kedepannya.

Sambutan Kepala BIG

Dalam sambutannya, Kepala Badan Informasi Geospasial, Prof. Dr. Hasanuddin Z Abidin, M.Sc menyatakan bahwa dokumen submisi Landas Kontinen di luar 200 mil laut di utara Papua sudah selesai.

Berkaca dari tragedi tsunami yang terjadi di Selat Sunda pada 22 Desember 2018 lalu, Pemerintah melalui BPPT dan BMKG bekerja sama untuk meluncurkan alat deteksi dini tsunami yang berupa Buoy Merah Putih sebagai upaya peringatan dini dan pencegahan bencana yang dipasang menggunakan Kapal Riset Baruna Jaya IV.

Kepala BMKG  Dwikorita Karnawati bersama Kepala BPPT Hammam Riza meninjau Buoy Merah Putih.

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi melalui unit kerja Balai Teknologi Survei Kelautan bekerjasama dengan Badan Informasi Geospasial Republik Indonesia melaksanakan kegiatan survei pemetaan landasan kontinen atau Landas Kontinen Ekstensi (LKE) di Wilayah Utara Papua.

Kerjasama tersebut disahkan dengan penandatanganan kontrak yang dilaksanakan pada 18 Maret 2019 di Ruang Rapat Pusat PKLP BIG, Cibinong, Bogor. Penandatanganan tersebut dihadiri oleh Deputi Kepala BPPT Bidang TIRBR, Dr. Wahyu W. Pandoe, Kepala Pusat Teknologi Pengembangan Sumberdaya Wilayah, Yudi Anantasena, M. Sc, Kepala Balai Teknologi Survei Kelautan, Dr. M. Ilyas serta beberapa staf Balai Teksurla. Kepala Pusat Pemetaan Kelautan dan Lingkungan Pantai, Yosef Dwi Sigit Purnomi menyatakan "Saya berharap sinergi antar institusi kelautan di Indonesia dapat berkelanjutan menuju Indonesia Poros Kelautan Dunia, namun baru 11% luas laut di Indonesia yang tersurvei."

Telah disepakati, survei akan berlangsung selama 70 hari kalender, yaitu 2 April - 7 Juni 2019 yang dimulai dari Tanjung Priok. Muara Baru, Jakarta.

Balai Teknologi Survei Kelautan mengerahkan Kapal Riset Barunajaya I yang dilengkapi dengan teknologi canggih sistem pemetaan bathimetri Multibeam Echosounder (MBES) Teledyne Hydrosweep DS yang berfungsi sebagai sensor pengukur kedalaman di laut lepas hingga 11.000 m.

Survei ini dilaksanakan untuk memperoleh data batimetri MBES di perairan utara Papua yang dapat menentukan posisi foot of slope (FOS) yang digunakan dalam delimitasi batas terluar landas kontinen ekstensi di perairanutara Papua dan digunakan sebagai data pendukung untuk pengusulan penambahan wilayah Landas Kontinen di perairan utara Papua ke PBB.

 

kontributor : Belinda

Dalam rangka pelaksanaan program pemasangan kabel optik dari PT Legenda Emas Cipta Engineering (PT. LECE ) di NTT, perusahaan tersebut bekerjasama dengan Balai Teknologi Survei Kelautan BPPT untuk membuat perencanaan jalur kabel bawah laut. Untuk maksud tersebut diperlukan kegiatan

pemetaan bawah permukaan laut, melalui pendekatan survei hidrografi, geofisika dan geologi dengan menggunakan peralatan dan teknologi kapal riset untuk laut dalam.

Tujuan kegiatan ini adalah untuk mengetahui kedalaman laut melalui survei batimetri guna perencanaan pemasangan kabel optik serta mengetahui kondisi bawah permukaan laut melalui survei instrumentasi geologi dan geofisika dalam perencanaan jalur kabel laut

 

Kegiatan Pengambilan Data Profil Kecepatan Suara

(Sound Velocity Profile)

Kegiatan survei dilaksanakan pada tanggal 21 November – 10 Desember 2018, dimulai dari perairan Jakarta –  Lewoleba – Kupang  - Jakarta dengan menggunakan Kapal Riset Baruna Jaya I BPPT yang membawa beberapa peralatan survei. Personil yang terlibat sebanyak 36 orang yang terdiri dari 14 orang engineer, 21 orang ABK (Anak Buah Kapal) dan 1 orang paramedis.

 

Tipe dan Spesifikasi Peralatan Survei  yang Digunakan

Alat

Tipe

Navigasi

Hemisphere R330

Antena Hemisphere

Multibeam Echosounder

AEU Hydrosweep DS

DEU Hydrosweep DS

ICU Hydrosweep DS

Transducer Hydrosweep DS

Sound Velocity Profile AML Minos X

Sound Velocity keel Sensor Micro X

TSS Saturn 10 Fiber Optic Gyro Compass

Sistem akuisisi dan Processing

Komputer & Software PDS 2000

Singlebeam

Echosounder Sqwest Bathy 2000

Sistem Navigasi

Komputer & Software Hypack ver 6.2b

 

 

Lintasan Survei Kapal Riset Baruna Jaya I BPPT

written by : Sasmita L- editted by : Anny Kustantiny

Kami Menanti Anda

Sebuah kehormatan bagi kami apabila dapat menjalin kerjasama dengan berbagai kalangan untuk memperluas jaringan kerja dalam rangka meningkatkan pengkajian dan penerapan teknologi survei kelautan serta layanan jasa yang kami tawarkan.

hubungi kami