Written by  2014-04-24

Peran Organisasi Ikatan Surveyor Indonesia(ISI) dalam Pengembangan Kompetensi Profesi Surveyor

(0 votes)

Oleh :

Dr. Imam Mudita, M.Sc.

 

Abstract

This paper introduces issues in trend of Surveying and Mapping Education, which are inter-related with Professional Competence of Surveyor in modern world. This is also Identifying professional competence for surveyor and pin-point the role of Professional organizations in implementing surveyor’s demand (qualification) and need (mobility) within their professional activities and the concept of lifelong learning.

Kata kunci: Pendidikan Survei dan Pemetaan, Kompetensi Profesi Surveyor, Organisasi Profesi Surveyor


 

KECENDERUNGAN YANG TERJADI DI BIDANG PENDIDIKAN SURVEI DAN PEMETAAN

Sebelum membahas peran organisasi ISI yang telah lama berdiri, terlebih dahulu kita perlu memperhatikan beberapa kecenderungan yang terjadi dalam dunia pendidikan survei dan pemetaan yang merupakan cikal bakal dari mana anggota-anggotanya mendapatkan pendidikan secara formal.

Keterampilan manajemen, vs keterampilan khusus. Perubahan-perubahan yang terjadi di bidang survei dan pemetaan, khususnya perkembangan teknologi informasi, membuat kita memahami akan pentingnya manajemen sebagai salah satu unsur dasar dalam pendidikan survey dan pemetaan. Keterampilan khusus yang tradisional sudah tidak sesuai lagi dengan tuntutan-tuntutan dalam pelayanan yang mengutamakan keinginan pengguna sebagai tujuannya. Surveyor juga perlu membutuhkan keterampilan untuk merencanakan dan mengelola proyek-proyek yang beragam, yakni tidak hanya keterampilan teknis semata akan tetapi juga yang berkaitan dengan profesi lainnya. Pendek kata surveyor moderen harus memiliki kemampuan tidak hanya mengelola dirinya sendiri dalam suatu suasana yang selalu berubah-ubah tetapi juga mampu mengelola perubahan-perubahan itu sendiri.

Perkembangan teknologi telah banyak membantu pekerjaan surveyor dalam hal pengambilan dan pemrosesan data. Hampir setiap orang dapat menggunakan teknologi tekan tombol dalam menghasilkan informasi survey dan pemetaan, kemudian mengolahnya dengan suatu system pemrosesan yang otomatis. Di masa yang akan datang mungkin kita hanya mengintepretasi data dan mengelolanya sedemikian rupa sehingga memuaskan para pengguna, instansi pemerintah dan swasta serta masyarakat. Oleh sebab itu, di masa yang akan datang keterampilan manajemen adalah suatu kebutuhan kunci di bidang survey dan pemetaan.

Pendidikan berorientasi praktis, vs pendidikan berorientasi disiplin ilmu. Alternatif pendidikan berorientasi disiplin ilmu adalah pendidikan berorientasi praktis, yang mana pendidikan berorientasi disiplin ilmu secara tradisional mengajarkan teori-teori yang dibantu dengan kegiatan praktis digantikan dengan melakukan suatu kegiatan praktis kemudian dibantu penjelasannya melalui pengajaran-pengajaran. Tujuan akhirnya adalah belajar sambil bekerja atau belajar bekerja. Belajar bekerja adalah berdasarkan permasalahan yang dihadapi yang berarti bahwa pengetahuan tradisional berdasarkan buku-buku digantikan dengan pengetahuan yang diperlukan untuk mengatasi masalah teoritis dan praktis dari masyarakat (berdasarkan kenyataan). Dengan kata lain, tujuannya adalah memberikan pengertian yang luas atas hubungan masalah serta memberikan kemampuan mengatasi masalah baru yang belum pernah diketahui sebelumnya.

Jadi secara umum universitas harus lebih terfokus pada bagaimana mengambil pelajaran dari suatu proses belajar. Pendekatan tradisional (knowing how) sering hanya sebagai tambahan dalam pengertian bahwa setiap pengetahuan baru perlu ditambahkan dalam bentuk satu pelajaran baru dalam rangka penyampaiannya. Dengan demikian pendekatan tradisional perlu dimodifikasi menjadi pendekatan yang memberikan perhatian pada keterampilan entrepreneur atau manajemen dalam rangka penyelesaian masalah secara ilmiah (knowing why).

Akademi maya (Virtual Academy), vs catatan-catatan pelajaran kelas. Sudah tidak diragukan lagi bahwa kegiatan pelajaran di kelas sangat terbantu bahkan dapat digantikan oleh media maya. Kuliah jarak jauh dan situs www cenderung menjadi satu terintegrasi sebagai alat pengajaran, yang mana suatu saat juga akan menjadi kelas maya pada tingkat global. Ini merupakan tantangan bagi peran universitas yang masih tradisional. Peran tradisional yang lebih terfokus pada kegiatan-kegiatan kampus akan berubah menjadi lebih terbuka dalam memberikan pelayanan keprofesian dan masyarakat.

Komputer tidak dapat menggantikan guru dan proses belajar tidak dapat diotomatisasi. Namun demikian, tidak diragukan lagi bahwa konsep akademi maya merupakan gambaran peluang khususnya dalam memfasilitasi proses belajar-mengajar dan dalam rangka memperluas peran universitas. Sementara itu situs www adalah salah satu teknik kuliah jarak jauh yang cocok khususnya untuk program belajar seumur-hidup.

Peranan universitas perlu ditingkatkan berdasarkan paradigma teknologi informasi. Kata kuncinya adalah berbagi pengetahuan. Kuliah-kuliah kelas dan jarak jauh harus terintegrasi bahkan penyampaiannya perlu dibentuk sedemikian rupa dengan cara yang berbeda. Materi-materi kuliah harus selalu tersedia di situsnya. Pengetahuan-pengetahuan baru yang muncul serta hasil-hasil riset juga harus selalu tersedia, dikemas sedemikian rupa sehingga dapat juga digunakan untuk membantu profesi di bidang lainnya. Dengan demikian semua lulusan dapat terus memperoleh pengetahuan terbaru sepanjang kehidupan profesionalnya.

Belajar seumur-hidup, vs pelatihan sesaat. Dulu ada pemeo, apabila kita sudah terdidik di suatu bidang itu terjadi sekali untuk selamanya. Kini pemeo itu tidak berlaku lagi, kita harus selalu meningkatkan kualifikasi. Pernah diperkirakan bahwa pelatihan sesaat hanya akan bermanfaat untuk selama rata-rata empat tahun saja, selebihnya kita perlu meningkatkan kemampuan sesuai dengan perkembangan situasi. Konsep belajar seumur-hidup atau pengembangan profesi berkelanjutan, yang lebih menekankan pada peninjauan ulang kemampuan dan pengembangan rencana kegiatan terstruktur, yakni untuk meningkatkan keterampilan baru yang ada, menjadi semakin penting. Dalam kaitan ini, lulus dari universitas adalah langkah awal dari suatu proses belajar seumur-hidup.

Tantangannya adalah bagaimana membangun keseimbangan antara universitas dan kegiatan praktis sedemikian rupa sehingga setiap professional dapat selalu berinteraksi dengan universitas, mendapatkan pengetahuan baru serta meningkatkan keterampilannya dalam perspektif belajar seumur-hidup.

 

PERANAN ORGANISASI PROFESI SURVEYOR

Ada beberapa istilah terkait yang perlu disampaikan terlebih dahulu agar dalam pembahasan peran organisasi ISI kita dapat memiliki persepsi yang sama.

Kegiatan Profesi Surveyor. Umumnya surveyor di berbagai belahan bumi mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

  1. Memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam teknik pengukuran.
  2. Dapat mengumpulkan serta mengkaji informasi pertanahan dan yang berhubungan dengan geografi.
  3. Dapat memanfaatkan informasi tersebut untuk tujuan perencanaan dan penyelenggaraan administrasi yang efisien atas tanah, laut dan struktur yang melekat padanya.
  4. Menjadi pelopor dalam pengembangan kegiatan survey dan pemetaan serta mempraktekkannya secara nyata.

Oleh sebab itu, profesi surveyor dapat meliputi satu atau lebih kegiatan-kegiatan berikut, baik yang berlangsung pada, di atas atau di bawah permukaan tanah dan laut, maupun kegiatan yang dilaksanakan berkaitan dengan profesi lainnya :

  1. Penentuan bentuk dan ukuran bumi serta pengukuran-pengukuran yang dibutuhkan dalam rangka mendefinisikan posisinya serta membuat kontur permukaan bumi.
  2. Penentuan posisi suatu obyek serta penentuan posisi dan pemantauan bentuk fisik, struktur dan pekerjaan rekayasa baik pada, di atas atau di bawah permukaan bumi.
  3. Penentuan posisi suatu batas wilayah lahan, baik batas wilayah nasional maupun internasional serta pendaftaran tanah dengan peruntukannya yang sesuai.
  4. Perancangan, pembentukan administrasi pertanahan dan system informasi geografis serta pengumpulan, penyimpanan, analisa dan manajemen data di dalam system tersebut.
  5. Pembuatan perencanaan-perencanaan, peta-peta, berkas-berkas, diagram-diagram dan laporan-laporan.

Kompetensi profesi. Mengapa diperlukan kompetensi profesi adalah suatu kebutuhan dalam rangka memberikan keleluasaan kepada surveyor untuk melakukan kegiatan profesinya agar tidak terbatas oleh ruang waktu dan tempat, di sisi lain adalah agar profesi surveyor itu sendiri dapat terlindungi.

Selain memahami kenyataan di atas perlu juga dipertimbangkan sifat dan karakter surveyor tersebut secara individu, yakni sebagai seseorang yang berprofesi (“a professional person”), seperti tertuang dalam definisi surveyor yang disetujui dalam Rapat Umum Paripurna FIG di Helsinki, Finlandia pada 11 Juni 1990).

Terminologi kompetensi profesi sangat sukar didefinisikan meskipun semua surveyor dapat mengenalnya. Dalam (Kenie et al., 2000), kompetensi profesi adalah kombinasi dari kompetensi pengetahuan, kompetensi pengenalan dan pemahaman serta kompetensi bisnis/perniagaan dengan kompetensi etika dan/atau tingkah-laku pribadi sebagai inti pusatnya. Bila digambarkan akan seperti gambar berikut:

Gambar 1. Kompetensi Profesi

Kenie et al. (ibid. Lampiran B hal. 8-9) telah mendefinisikan komponen-komponen kompetensi profesi tersebut sebagai berikut :

  • Kompetensi pengetahuan: “memiliki pengetahuan teknik dan/atau bisnis/perniagaan yang sesuai serta dapat menerapkannya secara praktis”.
  • Kompetensi pengenalan dan pemahaman: “memiliki kemampuan menyelesaikan masalah, menggunakan keterampilan berpikir yang tinggi baik masalah teknis maupun bisnis/perniagaan, secara efektif untuk memperoleh hasil tertentu.
  • Kompetensi bisnis/perniagaan: “memiliki kemampuan untuk memahami bisnis/perniagaan dalam arti luas, di mana dia berkecimpung mempraktekkan dan mengelola keinginan-keinginan pengguna secara pro aktif.
  • Kompetensi Etika dan/atau tingkah-laku pribadi, di mana ini merupakan inti dari ketiga komponen lainnya, didefinisikan sebagai “memiliki tingkah-laku dan nilai-nilai professional yang sesuai serta kemampuan membuat keputusan yang tepat ketika dihadapkan pada dilemma etika dalam masalah keprofesian.

Setiap kompetensi profesi surveyor mengandung keempat komponen tersebut di atas, hanya bobot penekanannya saja yang berbeda. Namun demikian keempatnya merupakan keutamaan dalam membahas kompetensi profesi surveyor di mana dan kapan saja mereka berada.

 

ORGANISASI PROFESI

Dalam rangka memfasilitasi ruang gerak surveyor, perlu diadakan penetapan dan pengakuan atas status profesi surveyor serta meningkatkan kompetensi anggota-anggotanya. Setiap anggota berkompeten dalam melaksanakan survey dan pemetaan. Dengan demikian mereka secara sadar bertanggung-jawab atas kenyataan di lapangan dan beradaptasi dengan lingkungan kerjanya masing-masing.

Untuk itu diperlukan suatu organisasi profesi surveyor yang memiliki kewibawaan dan kemampuan meyakinkan anggotanya dalam rangka mempertaruhkan kualifikasi profesi yang telah diperolehnya serta dalam rangka mempertahankan kegiatannya agar tetap dihargai oleh profesi-profesi lainnya.

Demikian pula dengan organisasi profesi ISI, yang merupakan jembatan penghubung dengan organisasi profesi sejenisnya di luar negeri, mempunyai peran yang menentukan dalam rangka menetapkan standar kualifikasi sehubungan dengan kegiatan anggota-anggotanya ketika mereka berada di suatu wilayah di luar otoritasnya.

Banyak peran yang telah dikenal dan dapat dilakukan oleh sebuah organisasi profesi surveyor, di antaranya :

  1. Memberikan dan menetapkan kualifikasi profesi
  2. Memberikan dan menetapkan lisensi praktek
  3. Mengatur tata kerja dan kompetensi surveyor
  4. Mewakili surveyor dan kepentingan-kepentingan mereka di luar keprofesiannya, seperti dengan pemerintah dan sebagainya

Dengan demikian organisasi profesi surveyor ISI mempunyai peran yang sangat vital dalam rangka memfasilitasi dan memberikan ruang gerak anggota-anggotanya sebagai surveyor professional.

 

KESIMPULAN

Kesadaran akan keleluasaan ruang gerak yang dibutuhkan surveyor dalam menghadapi situasi kerja dan masalah yang selalu berbeda dan berubah, maka keberadaan organisasi profesi ISI amat sangat diperlukan. Organisasi ini harus berwibawa dan dapat meyakinkan anggota-anggotanya, mewadahi konsep proses belajar seumur hidup serta dapat menjembatani kepentingan surveyor di luar keprofesiannya.

 

REFERENSI

Enemark S. and Prendergast, P., 2001, Enhancing Professional Competence of Surveyors in Europe, A joint CLGE/FIG report

Kennie, T., Green, M., Sayce, S., 2000, Assessment of Professional Competence. A draft framework for assuring competence of assessment. Prepared for The Royal Institution of Chartered Surveyors

 

 

Read 3254 times Last modified on Kamis, 24 April 2014 09:49

socialshare

share on facebook share on linkedin share on pinterest share on youtube share on twitter share on tumblr share on soceity6
Login to post comments

Kami Menanti Anda

Sebuah kehormatan bagi kami apabila dapat menjalin kerjasama dengan berbagai kalangan untuk memperluas jaringan kerja dalam rangka meningkatkan pengkajian dan penerapan teknologi survei kelautan serta layanan jasa yang kami tawarkan.

hubungi kami