Written by  2017-12-15

Instalasi dan Sea Acceptance Test Multibeam Echosounder Laut Dalam Teledyne HydroSweep DS K.R Baruna Jaya I – BPPT serta Pemetaan Batimetri

(0 votes)

Oleh

Dwi Haryanto, ST, MT

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) telah meningkatkan kemampuan Kapal Riset (K.R.) Baruna Jaya I menjadi kapal survei yang disiapkan khusus untuk hidro-oseanografi dan suvei batimetri laut dangkal hingga laut dalam.

K.R. Baruna Jaya I telah dilengkapi dengan Multibeam Echosounder (MBES) HydroSweep DS. Sistem MBES ini berfungsi untuk pemetaan dasar laut hingga kedalaman 11.000 meter atau 11 kilometer. Sistem MBES HydroSweep DS meliputi transducer MBES (transmit & receive), Tranceiver MBES (DEU, AEU, & ICU), Motion Sensor, DGPS, Real Time Surface Sound Velocity, Sound Velocity Profile, PDS2000 Software, dan Acquisition & Processing PC

Gambar 1. Sistem Overview dari MBES Teledyne HydroSweep DS

Transducer MBES terpasang permanen di K.R Baruna Jaya I (Hull Mounted) dengan sistem transmit transducer searah haluan kapal dan receive transducer tegak lurus haluan kapal (transmit vs receive arrays – Mill’s Cross).

Gambar 2. Anatomi Transducer MBES (transmit vs receive arrays – Mill’s Cross)

Instalasi MBES HydroSweep DS pada KR. Baruna Jaya I dilakukan di galangan kapal PT. Samudera Marine Indonesia (SMI), Banten pada 26 Oktober - 21 November 2017. Instalasi sistem MBES melibatkan expert dari Teledyne Marine (Denmark) serta didukung tim teknis dari PT Asmin Adisentosa dan Sea and Land (SALT) Singapura. Instalasi ini disupervisi tim teknis dari BPPT selaku pemilik kapal untuk menjamin hasil sesuai spesifikasi yang diinginkan, baik dari sisi struktur bangunan kapal, sistem elektronik, akuisisi dan pengolahan data MBES. 

Sehubungan dengan pemasangan transducer MBES, salah satu persiapan penting adalah Dimentional Survey. Dimentional survey merupakan prosedure pengukuran dimensi kapal secara 3D guna mendapatkan kerangkan 3D dari sistem koordinat kapal (Vessel Reference Frame).

Gambar 3. Vessel Reference Frames

Pemasangan transducer MBES mengacu pada Vessel Reference Frame, sehingga Dimentional Survey sangat berperan dalam membantu pemasangan transducer MBES agar sesuai dengan desain yang telah dibuat. Selain itu Dimentional survey juga diperlukan untuk mengukur posisi dari transducer (transmit & receive), DGPS, motion sensor dan sensor-sensor lainya terhadap titik referensi kapal (ship’s reference point). Pengukuran akurat lokasi sensor adalah prasyarat untuk menjaga agar data yang diperoleh sesuai dengan spesifikasi yang ditentukan. Misalignments yang tidak terhitung akan menghasilkan kesalahan kedalaman dan posisi, yang terwujud sebagai artefak data dalam bentuk riak heave (ripples) dan cross-talk antara roll dan pitch.

Setelah sistem MBES Teledyne DS terinstal di K.R Baruna Jaya I, maka pada tanggal 26-29 November 2017 K.R Baruna Jaya 1 melaksanakan Sea Acceptance Test (SAT) di Selat Sunda hingga Samudera Hindia. Dalam Sea Acceptance Test dilakukan pengujian sistem MBES secara keseluruhan yang meliputi : berfungsinya motion sensor, DGPS, surface sound velocity, sound velocity profile, terkoneksikan sensor-sensor ke sistem akuisisi MBES (software PDS2000) dan yang paling utama sistem MBES mampu melakukan ping (transmit energy) dan data kedalaman terekam di software PDS2000.

Selain dilakukan pengujian sistem MBES, dilakukan juga kalibrasi multibeam (patch test) guna mendapatkan nilai koreksi untuk Roll, Pitch, dan Yaw, sedangkan untuk koreksi latency diabaikan karena telah dilakukan sinkronisasi waktu dengan teliti. Patch test dilakukan untuk mengeliminir kemiringan transducer (transmit & receive) terhadap bidang horisontal dan vertikal (Vessel Reference Frame). Setelah diperoleh nilai patch test, selanjutnya nilai patch test diinputkan ke software PDS2000. Untuk validasi hasil patch test maka dibuat line survey yang tegak lurus jalur patch test (cross line).

Gambar 4. Lajur Patch Test dan Hasil Patch Test

Rencananya sistem MBES Teledyne HydroSweep DS akan dicoba sampai kedalaman 6.000 meter di Selatan Selat Sunda. Namun akibat terkena badai siklon Cempaka di Samudera Hindia, maka sistem MBES Teledyne HydroSweep DS dicoba sampai kedalaman 2.000 meter di Barat Sumatera. Dari hasil ujicoba sistem ini, lebar sapuan (coverage) telah sesuai dengan spesifikasi dari Teledyne. Pada kedalaman 1000m lebar sapuan 6 kali kedalaman sedangkan pada kedalaman 2000m lebar sapuan 5.5 kedalaman. Pada kedalaman 2000 meter, MBES mampu memberikan coverage 11.000 meter sesuai spesifikasi.

Sistem MBES Teledyne HydroSweep DS selanjutnya melakukan pemetaan batimetri di lokasi bangkai kapal di dasar laut dari KM. Bahuga Jaya yang tenggelam di perairan Selat Sunda, sekitar 5 mil menuju pelabuhan Bakauheni pada 26 September 2012. Dari sistem ini selain diperoleh bentuk kapal karam berdasarkan nilai kedalaman (topografi) juga diperoleh data image (backscatter) dari kapal karam. Berikut tampilan data secara real time saat pemetaan batimetri di lokasi kapal karam KM. Bahuga Jaya.

Gambar 5. Tampilan Secara Real Time Saat Akuisisi Data di Software PDS2000

Data hasil akuisisi sistem MBES Teledyne HydroSweep DS selanjutnya dilakukan proses editing guna menghilang noise atau spike (anomali kedalaman) sehingga diperoleh tampilan topografi dan image backscatter yang lebih detail.

Gambar 6. Tampilan Hasil Batimetri Secara 3D di Lokasi Tenggelamnya K.M. Bahuga Jaya

 

 

 

 

Read 805 times Last modified on Selasa, 09 Januari 2018 14:30

socialshare

share on facebook share on linkedin share on pinterest share on youtube share on twitter share on tumblr share on soceity6
Login to post comments

Kami Menanti Anda

Sebuah kehormatan bagi kami apabila dapat menjalin kerjasama dengan berbagai kalangan untuk memperluas jaringan kerja dalam rangka meningkatkan pengkajian dan penerapan teknologi survei kelautan serta layanan jasa yang kami tawarkan.

hubungi kami